Perayaan Halloween Bolehkah?


tidakbiasa.com - Halloween adalah sebuah perayaan yang telah dirayakan oleh beberapa negara dan terlebih di Amerika Serikat. Lalu bagaimana perayaan Halloween menurut Islam? Seperti yang dilansir sidomi Belakangan hal ini yang muncul dalam benak kita mengingat Halloween sebentar lagi dirayakan pada malam tanggal 31 Oktober tiap tahunnya. Apakah seorang muslim boleh mengikuti tradisi Halloween? Ataukah haram hukumnya terlibat dalam perayaan yang berasal dari tradisi pagan ini?

Di dunia modern, Halloween identik dengan kostum hantu, simbol Jack-o-lantern, hingga anak-anak yang menggedor pintu sembari memainkan ‘Trick or Treat’. Film-film produksi Amerika Serikat turut membantu memperkenalkan pesta Halloween ini ke seluruh dunia. Namun jika dilihat dari sejarahnya, ada pergeseran makna yang cukup jauh antara cikal bakal Halloween dengan perayaannya yang kekinian.

Halloween diyakini terinspirasi dari festival Samhain dari tanah Britania Raya. Festival ini diadakan untuk memperingati perubahan drastis dari musim panen menuju musim dingin. Diyakini oleh masyarakat saat itu, hari festival Samhain bermakna terbukanya pintu menuju Dunia Kematian. Roh yang sudah mati, bangkit kembali dan mendatangi rumah mereka. Di samping itu ada pula roh-roh jahat yang mengganggu, yang mesti diusir dengan api unggun dan kostum aneh.

Ustadz Ammi Nur Baits, Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com, menyebutkan jika perayaan Halloween ini, hanya sebatas main-main, dan nilai gunanya, nilai ibadahnya, tidak ada. Meskipun isinya adalah pesta yang riang gembira, di dalam pesta Halloween, akan dengan mudah ditemui unsur-unsur yang melambangkan iblis, setan, dan sebagainya.

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Mumtahanah: 1, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.”

Sementara, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (H.R. Abu Daud)

Sebagai seorang muslim, hendaklah kita jeli memilih-milih produk budaya seperti apa yang hendak ditiru. Selama hal tersebut tidak bertentangan dengan kaidah agama, dan di dalamnya tidak ada kesan hanya hura-hura semata, kegiatan tersebut bisa dipertimbangkan. Nah setelah membaca dalil di atas tentu sangat jelas bukan hukumnya seperti apa. Silakan share jika bermanfaat.. Wassalam.