Bagaimana Nasib Akun Google Plus, Facebook dan Twitter Kita Jika Kita Meninggal Dunia? Yuk Baca

tidakbiasa.com - Pernahkah kita renungkan atau bertanya bagaimanakah jika kita memiliki akun di sosial media seperti Google Plus, Facebook, atau Twitter dan yang lainnya namun membagikan hal-hal yang lebih ke arah kemaksiatan dibandingkan dengan kemanfaatan untuk diri kita sendiri, teman-teman kita atau bahkan khalayak umum.


Misalnya, membagikan foto selfie atau gambar apapun yang menebar aurat, membagikan video asusila, menebar status kebencian dan menghina orang lain di dunia maya dan macam-macam hal lainnya yang "negatif" tanpa manfaat. Bagaimanakah hukumnya? Apakah berpengaruh pada perhitungan amalan di hari akhir nanti? Berdosakah?

Perhatikanlah beberapa dalil berikut;

Allah berfirman dalam surat Yasin ayat ke-12 yang artinya:

“Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati, Kami catat semua yang telah mereka lakukan dan dampaknya. Dan semuanya kami kumpulkan dalam kitab (catatan amal) yang nyata (Lauh Mahfudzh)” (QS. Yasin: 12)

Dari ayat Al-Quran yang mulia tersebut, sesungguhnya tidak hanya catatan amal perbuatan yang kita lakukan yang akan dicatat dan diperhitungkan Allah, namun termasuk juga semua pengaruh dari perilaku dan perbuatan kita.

Dinyatakan juga dalam hadis dari sahabat Jarir bin Abdillah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Siapa yang menghidupkan sunah yang baik dalam Islam, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya maka dicatat untuknya mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Siapa yang menghidupkan tradisi yang jelek di tengah kaum muslimin, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim, Ibn Majah, Ad-Darimi dan yang lainnya)

Dalil-dalil di atas seyogyanya memotivasi diri kita untuk semangat dalam membagikan atau menyebarkan ilmu dan kebaikan serta merasa takut ketika membagikan atau menyebarkan hal yang mengundang orang lain untuk bermaksiat.

Di zaman sekarang, sosial media semakin berkembang menjadi gaya hidup masyarakat di dunia. Namun, hal itu hanya instrumen. Hukum asal instrumen ini adalah netral, atau dengan bahasa yang lebih tegas, mubah. Kitalah yang menentukan kontennya.

Saat kita menggunakan sosial media ini untuk menyebarkan dan membagikan serta mengajak pada kebaikan, seperti berdakwah, mengajak masyarakat berbuat baik maka insyaAllah ini menjadi amal shalih yang dicatat Allah untuk memberatkan timbangan kebaikan kita. Walaupun kita telah meninggalkan dunia ini maka selama info baik yang kita sebarkan memberikan pengaruh yang baik di masyarakat, ajakan amal yang kita sampaikan dikerjakan pembacanya, insyaAllah ini akan menjadi aliran pahala bagi kita, meskipun kita sudah meninggal dunia.

Dan ingatlah juga kebalikannya, bagi orang-orang yang memanfaatkan sosial media untuk hal yang menjurus kepada kemaksiatan seperti, menyebarkan foto yang mengumbar aurat, mengajak orang untuk melakukan dosa dan maksiat, menghina dan mencaci orang lain dan lain-lain maka jika ada manusia yang bermaksiat karena disebabkan informasi tersebut, maka orang tersebut akan mendapatkan aliran dosanya.

Mari menjadi hamba yang senantiasa berpikir. Karena agama Allah yang mulia menyukai orang-orang yang berilmu. Bahkan setan saja lebih takut kepada orang yang berilmu daripada orang yang taat beribadah namun kurang ilmu.

Mari jangan sia-siakan sarana sosial media hanya sebagai pengalir dosa untuk kita semua. Mari lebih berpikir dalam berbagi sesuatu dengan teman di dunia maya. Jangan sampai sosial media menjerumuskan kita pada kemaksiatan yang merugikan kita ketika kita menghadap Allah nanti.

Yang paling sering kita jumpai di sosial media dan yang sudah dianggap biasa adalah tren foto selfie yang membuka aurat padahal ia adalah seorang wanita muslim. Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras wanita membuka auratnya ketika keluar rumah. Karena maksiat yang dia lakukan mengundang orang lain untuk melakukan maksiat. Dan ini tidak jauh beda dengan para lelaki atau wanita yang memajang foto aurat wanita di dunia maya, mengajak orang lain untuk turut bermaksiat dan berzina matanya.

Ingat, walaupun kita telah meninggalkan dunia, dampak dari perbuatan kita akan tetap dicatat oleh Allah. Renungkan, bayangkan dan resapilah kawanku ketika ada sebagian dari kita mengunggah satu saja foto atau gambar “bermasalah” di dunia maya, kemudian dibagikan ulang oleh teman kita, terus berlanjut dibagikan berulang-ulang lagi oleh orang lain, lagi dan lagi.

Betapa banyak mata pengguna sosial media yang terlibat maksiat matanya akibat dari sang pengunggah foto? Ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan orang yang terpaksa melihat "maksiat" tersebut? Pikirkanlah kawan, jika seribu orang yang melihatnya maka kita mendapat aliran dosa yang sama dengan seribu orang tersebut. Coba hisab kebaikan kita apakah mengalahkan berat dosa-dosa kita nanti?

Termasuk juga kita para wanita, jangan bangga dengan aurat Anda. Karena aurat itu aib jika ditampakkan kepada yang bukan haknya. Lalu dengan apa bisa dibanggakan dan dipamerkan. Bukankah semua wanita juga memilikinya. Mari berhati-hati jangan sampai foto “bermasalah” Anda jatuh ke tangan pihak yang tak mengerti dan tak bertanggung jawab.

Dari hasil penelusuran pengalaman beberapa pengguna internet di Indonesia dan atas dasar pengakuan mereka sendiri. Tahukah Anda? Ternyata banyak sekali akun sosial media palsu yang mengaku bahwa dia membuat akun palsu seorang wanita padahal dirinya adalah pria dengan mengambil foto-foto wanita yang mereka anggap cantik bahkan tak jarang yang membuka banyak aurat hanya untuk keuntungan yang sedikit.

Mungkin saja itu koleksi foto Anda yang dicuri pengguna internet jahil? Kalau sudah begini bagaimana? Kawanku yang semoga dirahmati Allah, mari segerakan membersihkan diri dan bertaubat. Silakan dibagikan atau dicopas jika dirasa bermanfaat. Allahu ’alam